Mama Royani, Memimpin Pesantren Cisempur Selama 32 Tahun

kh-royani
Mama Kiai Haji Royani Shiddiq, ulama kharismatik Bogor

Mama Kiai Haji Royani bin Shiddiq adalah seorang ulama kharismatik yang memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat luas, terutama masyarakat Bogor dan sekitarnya. Ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keagamaan yang sangat kuat, sehingga mempengaruhi kehidupan masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa dan menjadi tokoh penting dalam dunia pesantren.

Tidak ada keterangan pasti seputar waktu kelahirannya, namun salah seorang putranya, Kiai Haji Mukhtar Royani mengatakan bahwa ia wafat di usia sekitar 50-an. Mama Royani memperoleh pendidikan keagamaan perdana dari ayahnya, Kiai Haji Shiddiq.

Kiai Haji Shiddiq adalah seorang ulama pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Riyadul Aliyah Cisempur, Caringin, Bogor. Kiai Shiddiq memimpin pesantren ini selama 18 tahun, sejak tahun 1918 sampai dengan tahun 1936. Pendirian pesantren didasari oleh latar belakang sosial masyarakat Cisempur yang pada masa itu jarang sekali yang memahami kitab-kitab kuning dan bahasa Arab yang merupakan bahasa penting dalam memahami ajaran Islam. Selain merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai tokoh agama untuk memberikan pengajaran kepada umatnya, situasi tersebut juga mendorong Kiai Shiddiq untuk mendirikan sebuah pesantren di tengah masyarakat Cisempur.

Pesantren ini berdiri di tengah-tengah perkampungan penduduk, tepatnya di kampung Cisempur, desa Cinagara, kecamatan Caringin, kabupaten Bogor. Pesantren Riyadul Aliyah pada mulanya merupakan pengajian yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Proses pendirian pesantren melibatkan tokoh-tokoh masyarakat melalui musyawarah yang diprakarsai dan dihimpun oleh Kiai Shiddiq. Seiring berjalannya waktu, pesantren yang berawal dari sebuah pesantren kecil mengalami perkembangan pesat dan memiliki jumlah santri yang banyak.

Setelah memperoleh pendidikan keagamaan dari ayahnya, Mama Royani kemudian diberangkatkan ke Sukabumi untuk menuntut ilmu kepada kakeknya dari pihak ibu, yaitu Kiai Haji Hasan Basri di Babakan, Cicurug, Sukabumi. Kiai Hasan Basri adalah salah seorang ulama besar Sukabumi yang telah melahirkan tokoh-tokoh Islam terkemuka di Indonesia dan aktif dalam perjuangan melawan penguasa Kolonial. Di antara salah seorang muridnya yang terkemuka adalah Kiai Haji Masturo, pendiri Pondok Pesantren Al-Masturiyah Sukabumi.

Selain berguru kepada ayah dan kakeknya, Mama Royani juga menuntut ilmu kepada Syekh Ahmad Syathibi al-Qonturi (Mama Gentur), namun tidak diketahui secara pasti berapa lama ia menuntut ilmu di sana.

Setelah melakukan pengembaraan intelektual kepada ulama-ulama alim, Mama Royani kemudian kembali ke daerahnya hingga akhirnya ia mendapat mandat untuk memimpin pesantren sepeninggal ayahnya wafat tahun 1936. Mama Royani memimpin Pondok Pesantren Riyadul Aliyah selama 32 tahun, yaitu sejak tahun 1936–1968. Di era kepemimpinannya, pesantren mengalami perkembangan cukup pesat serta sarananya pun ditingkatkan. Demikian pula halnya dengan sistem pendidikannya yang mengalami pembaharuan. Pada masa kepemimpinan ayahnya, masjid selain difungsikan untuk kegiatan ibadah salat, juga untuk kegiatan pengajaran para santri. Namun di era kepemimpinan Mama Royani, masjid difungsikan kembali hanya sebagai tempat ibadah salat. Sedangkan untuk kegiatan pengajaran dilakukan di tempat terpisah yang telah dibangun oleh Mama Royani.

Jumlah santri pada masa itu berkembang dengan pesat, mencapai sekitar 200–400 lebih yang terdiri dari santri laki-laki dan perempuan. Pada periode ini santri tinggal di asrama. Di era kepemimpinannya, Mama Royani telah melahirkan banyak alumni yang tersebar di berbagai daerah seperti Bogor, Sukabumi, hingga Banten. Sebagian besar alumni melanjutkan kiprah dan perjuangannya dalam kegiatan syiar melalui pengajaran ilmu keagamaan, termasuk di antaranya: Abuya Busthomi, Pandeglang, Banten; Kiai Haji Abdul Manaf, Banten; Kiai Haji Kholil, Ciapus, Bogor; Kiai Haji Abdul Latief, Citeureup; Kiai Haji Syarif, Kampung Situ, Megamendung, Bogor; Kiai Haji Mahfudz, Tipar, Sukabumi; serta Kiai Haji Ahmad Widara Musa, pendiri Pondok Pesantren Riyadlul Mubarakah Cidodol dan penggagas berdirinya Pondok Pesantren Al-Khudriyah, Cipanas, Lebak, Banten.

Semasa hidupnya, Mama Royani berafiliasi pada gerakan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang didirikan oleh Syekh Ahmad Khatib al-Syambasi.

Mama Royani wafat dan dimakamkan di Mekkah. Ia wafat pada saat putra-putrinya masih kecil. Namun karena terinspirasi oleh ayahnya, semua putra-putri Mama Royani belajar di pesantren. Bahkan sepulang dari pesantren, sebagian besar putra-putrinya melanjutkan kiprah dan perjuangan ayahnya dengan mengabdi di pesantren peninggalan ayahnya. Di antara mereka bahkan mendirikan pesantren di daerah lain dan berkiprah di daerah tersebut.


Dihimpun dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s