Ibnu Malik dengan Dua Bait Misteriusnya

Apabila sebelumnya kita telah sama-sama memahami bagaimana adab sepantasnya kepada guru (silakan baca di sini), maka kisah Imam Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad bin Abdillah bin Malik ath Thaa-i al Andalusiy al Jayaaniy asy Syafi’i menjadikan ketakziman kita terhadap seorang guru (seyogyanya) lebih ditingkatkan lagi. Jangan sampai kita ceroboh melakukan tindakan dan/atau perkataan yang menyakiti bahkan merendahkan wibawa seorang guru.

Imam Muhammad bin Abdullah bin Malik (lebih dikenal dengan Imam Ibnu Malik) memiliki kisah yang luar biasa ketika menuliskan salah satu kitabnya berjudul Alfiyah. Kitab Alfiyah merupakan kitab yang berisi seribu dua bait yang mengandung makna-makna dan penjelasan mengenai gramatika dan tata bahasa Arab. Kaum pesantren menganggap bahwa kitab Alfiyah merupakan rumusan lengkap untuk memandu para santri membaca kitab berbahasa Arab gundul (tanpa syakal)—bahkan mengarangnya, saking luar biasa isi yang ada di dalamnya.

Penulisan kitab Alfiyah tersebut (menurut beberapa literatur) terinspirasi dari kitab Alfiyah karya gurunya, Imam Abu Zakaria Yahya bin Mu’thi bin Abdillah an Nuur al Zawaaniy al Hanafi (Imam Ibnu Mu’thi). Hanya saja, kitab Alfiyah Imam Ibnu Mu’thi berjumlah lima ratus bait, yakni seribu satar. Dalam hal ini, kata Alfiyah menurut Imam Ibnu Mu’thi merujuk pada jumlah satar dalam kitabnya. Sementara, seperti yang kita ketahui bahwa jumlah bait dalam Alfiyah Imam Ibnu Malik ialah seribu dua.

Menurut cerita, Imam Ibnu Malik merupakan seorang alim yang cerdas. Maka, semua bait nazamnya sudah dihafal dari awal sampai akhir sebelum akhirnya ditulisnya dalam kertas. Maka, pada bait pertama nazamnya, Imam Ibnu Malik menuliskan:

أَحْمَدُ رَبِّيْ اللهَ خَيْرَ مَلِكِ

*

قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ابْنُ مَلِكِ

“Aku memuji Tuhanku, Allah sebaik-baiknya pemilik”

*

Telah berkata Muhammad, dia ialah putra dari Malik

Dalam bait pertama tersebut, dituliskan kata kerja lampau (fi’il madhi) ‘قال’ yang berarti ‘telah berkata’. Padahal, itu merupakan ungkapan pertamanya, sama sekali belum ada kata-kata lain sebelumnya. Artinya bahwa, sejatinya Imam Ibnu Malik sudah mengatakan, menuturkan, membayangkan, menuliskan, menghafalkan apa yang akan dituliskannya.

Hanya saja, ketika beliau sampai kepada bait kelima (yang kala itu merupakan bait terakhir sebagai pembuka), ingatannya hilang seketika. Kegelapan menimpanya tak terkira, tak ada hafalan yang tersisa, sehingga beliau kebingungan tak tahu apa-apa. Lantas apa yang menjadi sebabnya? Mari kita sama-sama melantuntak nazam di bait kelima:

فَائِقَةً أَلْفِيَةَ ابْنِ مُعْطِي

*

وَتَقْتَضِيْ رِضًا بِغَيْرِ سُخْطٍ

Adapun kitab ini lebih unggul dibandingkan kitab Alfiyah karangan Ibnu Mu’thi

*

Dan aku berharap kitab ini akan menarik keridhoan Allah tanpa dibarengi benci

Di tengah kebingungannya, Imam Ibnu Malik memejamkan mata.

Dalam mimpinya, beliau dibangunkan oleh seorang kakek yang mengenakan pakaian serba putih. Surbannya hamper menutupi sebagian kepalanya sehingga wajahnya tidak tampak secara jelas. Sambil menepuk pundak Imam Ibnu Malik, kakek itu berkata: “Oi bangunlah, Anak Muda! Bukankah engkau tengah menyusun sebuah kitab?” tanyanya.

“Iya, Kakek.” Jawabnya tejaga, masih dalam mimpi singkatnya. “Tetapi (tiba-tiba) lupa akan semua hafalan saya sehingga tak bisa melanjutkannya.”

Kakek itu melanjutkan bertanya, “Sudah sampai mana engkau menuliskannya?” Lalu Imam Ibnu Malik membacakan nazamnya hingga bait ke lima, “Baru sampai bait kelima.” Tuturnya kemudian.

Sang kakek tersenyum dan menawarkan niat baiknya dengan ramah, “Bolehkah aku melanjutkan hafalanmu?” seketika Imam Ibnu Malik mengangguk bahagia, “Tentu saja!” sahutnya. Kemudian, sang kakek membacakan sepenggal bait yang disarankannya:

وَالحَيُّ قَدْ يَغْلَبُ أَلْفَ مَيِّتٍ

*

فَائِقَةً مِنْ نَحْوِ أَلْفِ بَيْتٍ

Orang yang hidup terkadang me-ngalahkan seribu orang yang mati

*

Seperti halnya mengungguli dalam ilmu nahwu seribu bait ini

Setelah mendengar bait tersebut, Imam Ibnu Malik terbangun dari tidur lelapnya. Ia kaget akan apa yang dialaminya karena sepenuhnya sadar siapa sosok kakek dalam mimpinya, tak lain ialah gurunya: Imam Ibnu Mu’thi.

Sejatinya, bait tersebut merupakan sindiran kepada Imam Ibnu Malik atas rasa sombong dalam bait kelima miliknya. Beliau menganggap bahwa Alfiyah karangannya lebih unggul daripada karangan gurunya. Padahal, apa yang beliau dapatkan merupakan anugerah Allah yang diberikan lewat gurunya sehingga tidak sepantasnya menganggap dirinya lebih tinggi. Dalam hal ini, kaum pesantren memiliki tekad bahwa sepintar-pintarnya seorang murid, tak akan pernah bisa mengungguli gurunya dalam hal tinggi derajat keilmuannya. Karena semakin pintar seorang murid, derajat seorang guru akan semakin diangkat. Begitu luar biasanya seorang guru yang mengajarkan ilmu (yang bermanfaat) kepada para muridnya.

Mengalami kejadian tersebut, Imam Ibnu Malik bertaubat atas kecongkakannya. Beliau pun menziarahi kuburan gurunya untuk memohon maaf dan mengharap keridhoannya. Setelah berziarah, kemudian beliau menambahkan dua bait yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya. Dua bait itu berisi sanjungan dan ketakziman dirinya kepada Imam Ibnu Mu’thi.

مُسْتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الجَمِيْلاَ

*

وَهُوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاَ

Dia juga pantas mendapatkan pujian dariku dengan pujian dan keindahan

*

Dan Ibnu Mu’thi memang lebih dahulu serta mendapatkan keunggulan

لِيْ وَلَهُ فِيْ دَرَجَاتِ الآخِرَةْ

*

وَاللهُ يَقْضِيْ بِهِبَاتٍ وَافِرَةْ
Untukku dan juga beliau dalam derajat yang tinggi kelak di akhirat

*

Semoga Allah memberi dengan anugerah yang berlipat
20170810_224715
Bait kelima hingga ketujuh nazam Alfiyah Imam Ibnu Malik (dok. Ponpes al-Khudriyah)

Setelah menyelesaikan dua bait terbarunya, terbukalah hafalan beliau yang terlupakan sebelumnya. Maka dengan segenap jiwa beliau melanjutkan penulisan nazamnya hingga bait ke seribu dua. Itulah mengapa kitab Alfiyah karangannya memiliki dua bait tambahan, misteri yang terpecahkan.

Sampai saat ini, para santri selalu menyenandungkan nazam tersebut dalam berbagai acara: salawatan, mauludan, syukuran, wisudaan, dan sebagainya. Bahkan setiap tahunnya di berbagai pondok pesantren, hadir para penghafal nazam Alfiyah. Dihafalkan untuk dipelajari, dipahami, dan diaplikasikan. Nazam Alfiyah sebagai pengingat kita akan ketakziman kepada guru dan kiai. Sebagai panduan kita untuk memahami kalam ilahi. Maka, akan sangat lucu ketika seseorang berteriak kembali kepada al Quran dan as Sunnah, tetapi melupakan dasar-dasar ilmu tata bahasa untuk membedah makna yang terkandung di dalam kedua sumber agama.

Dan Allah lebih mengetahui atas semua kebenaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s