Mama Muhammad Basri Kadaung, Ulama Kharismatik dari Bogor

kh-hasan-basri
Mama Kiai Haji Muhammad Basri Kadaung (sumber: suarapesantren.net)

Mama Kiai Haji Muhammad Basri adalah seorang ulama kharismatik dari Bogor. Ia lahir pada tahun 1922 di sebuah dusun terpencil bernama Kadaung, desa Rengasjajar, kecamatan Cigudeg, kabupaten Bogor.

Pendidikan keagamaan perdana diperoleh dari ayahnya, Kiai Haji Abdurrahman yang juga mengelola pesantren. Pesantren tersebut merupakan peninggalan keluarganya yang dikelola secara turun-temurun hingga saat ini. Selain sebagai seorang kiai, Haji Abdurrahman juga merupakan seorang petani dan peternak ikan.

Sejak usia remaja, Mama Basri dikenal sebagai sosok sederhana yang memiliki keterampilan dan kecerdasan. Kecerdasan inilah yang menjadikan dirinya terdepan dalam kehidupan pembelajaran. Seperti anak-anak seusianya, pada masa lalu Mama Basri memiliki kegemaran bermain bola pada saat ia masih sekolah di Sekolah Rakyat di daerah Lebak Wangi.

Setelah memperoleh pendidikan keagamaan secara langsung dari ayahnya, Mama Basri selanjutnya diberangkatkan oleh ayahnya ke beberapa pesantren di tanah Jawa, di antaranya ke Pesantren Temanggungan Tangerang dan Pesantren Nurul Falah Petir di daerah Banten. Di sanalah awal ia menuntut ilmu kepada seorang kiai pesantren. Seorang kiai mengambil keputusan memberangkatkan putra-putrinya ke pesantren lain merupakan tradisi yang tidak terpisahkan dari tradisi kesantrian. Sejak Islam masuk di Jawa, para kiai selalu terjalin oleh rantai intelektual yang tidak terputus antara satu pesantren dengan pesantren lainnya. Baik dalam suatu kurun zaman maupun dari satu generasi ke genarasi berikutnya, terjadi hubungan intelektual yang mapan. Dalam tradisi pesantren, rantai intelektual ini disebut dengan Sanad.

Setelah menyelesaikan pendidikan keagamaannya di daerah Banten, Mama Basri memutuskan untuk menuntut ilmu kepada Syekh Ahmad Syathibi al-Qonturi di Pesantren Gentur, daerah Cianjur. Setelah belajar di Gentur, Mama Basri memutuskan untuk pergi ke daerah Plered, Purwakarta. Di sana, seangkatan bersama Abuya Dimyathi al-Bantani ia menuntut ilmu kepada Syekh Tubagus Muhammad Bakri as-Sampuri, seorang ulama berdarah Banten yang berkiprah di Purwakarta. Selanjutnya, Mama Basri melanjutkan pengembaraan intelektualnya kepada Kiai Haji Zainal Mustafa di daerah Singaparna, Tasikmalaya. Kiai Haji Zainal Mustafa adalah seorang ulama yang juga merupakan Pahlawan Nasional Indonesia. Setelah berguru kepada Kiai Haji Zainal Mustafa, Mama Basri pergi ke Cirebon untuk berguru kepada Kiai Haji Amin di Pesantren Babakan Ciwaringin.

Akhirnya, setelah menyelesaikan pelajaran di beberapa pesantren, Mama Basri memutuskan untuk kembali ke Kadaung. Di usia yang masih muda, ia telah dipercaya oleh ayahnya untuk mengajar para santri pada waktu siang hingga sore hari. Aktivitas pengajarannya selain di majelis-majelis pengajian dan di masjid-masjid berbagai daerah, secara khusus ia mengajar di ma’had yang didirikan oleh ayahnya, Ma’hadul Islam yang kemudian berganti nama menjadi Pondok Pesantren al-Basriyyah. Namun di kemudian hari, pada tahun 1990 nama Ma’hadul Islam dihidupkan kembali menjadi sebuah yayasan yang mengadopsi sistem pendidikan modern.

Masih pada usia muda, Mama Basri pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji dan menuntut ilmu kepada salah seorang ulama besar Nusantara yang masyhur di tanah Hijaz yaitu Syekh Yasin al-Fadani. Bahkan ulama besar yang telah memberi gelar “Macan Jawa Barat” kepada Mama Basri ini juga pernah dua kali datang bersilaturahim ke kediaman Mama Basri di Kadaung.

Selain memiliki interaksi luas dengan para kiai yang menjadi gurunya, Mama Basri juga memiliki hubungan interaksi persahabatan yang cukup luas dengan banyak kiai, di antaranya: Kiai Haji Achmad Syaikhu, Kiai Haji Syamsuri Baidowi Tebuireng, Abuya Dimyati al-Bantani, Kiai Haji Harun Jasinga, Kiai Haji Wahid Hasyim, Kiai Haji Idham Kholid, dan lainnya.

Semasa hidupnya, Mama Basri menyelenggarakan kegiatan pengajian rutin di Kadaung pada setiap malam Kamis yang dihadiri oleh jemaah dari berbagai daerah. Sedangkan terkait dengan aktivitas tarekatnya, Mama Basri yang menganut Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah ini juga menyelenggarakan kegiatan dzikir rutin yang dilaksanakan pada hari Kamis hingga hari Jumat.

Mama Basri wafat pada tahun 1993, tetapi semangatnya tetap hidup dan dihidupkan oleh keturunan serta murid-muridnya yang senantiasa menghidupkan semangat syiar Islam yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia.


dihimpun dari berbagai sumber.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s