HUJAH VALID DALAM PERAYAAN MAULID

Jauh sebelum umat akhir zaman mempermasalahkan keabsahan dalil maulid Rasul setiap tahun, para ulama abad pertengahan sudah lebih dulu membahas hal itu, Imam Jalaluddin al-Suyuti salah satunya. Ulama yang hidup di akhir abad pertengahan tersebut merangkum dengan sangat ringkas dan lugas terkait permasalahan maulid Rasul. Dalam kitab fatwanya, Imam Suyuti menulis:

24 – Niat yang Bagus dalam Peringatan Maulid Rasul

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, serta salam atas segenap hamba-Nya yang terpilih. Kemudian, telah nyata persoalan terkait hukum peringatan maulid Rasul pada bulan Rabiulawal dari segi syariat. Apakah hal itu terpuji atau justru tercela? Apakah orang yang melakukannya diberi pahala atau tidak?

Demikian permasalahan yang diangkat oleh Imam Suyuti terkait peringatan maulid. Beliau lantas mengemukakan bahwa baginya perayaan maulid termasuk ke dalam bidah hasanah. Artinya, tidak ada di zaman Nabi dan tiga generasi awal Islam, serta baru muncul belakangan. Namun, perayaan itu merupakan hal yang bagus untuk dilakukan. Bagi yang melakukannya akan mendapat pahala karena mengagungkan Nabi dan menunjukkan kebahagiaan atas kelahirannya yang mulia.

Perayaan yang dimaksud adalah berkumpulnya manusia dalam satu tempat untuk membaca Al-Qur’an, mengenang riwayat hidup Nabi yang tepercaya, serta jamuan makan hingga orang-orang kembali lagi ke rumahnya. Tradisi ini tentu tidak ada di zaman Nabi dan tiga generasi awal, karena pada zaman itu peringatan Maulid dilaksanakan sebatas dengan puasa, bergembira, dan bersedekah, tanpa mengumpulkan manusia dalam suatu tempat tertentu untuk melakukan kegiatan tertentu.

Benar, perayaan yang lazim ditemukan dewasa ini adalah bidah. Namun, karena diisi dengan sejumlah kegiatan positif dan sesuai tuntunan agama, maka kegiatan tersebut merupakan perbuatan yang bagus dilakukan. Akan tetapi, perayaan maulid juga bisa menjadi tercela bila diisi dengan kemaksiatan.

Sebagian riwayat Syiah mengatakan bahwa perayaan maulid Rasul dimulai pada masa Dinasti Fatimiah di Mesir di abad keempat hijriah. Namun, literatur ahlusunah menyebutkan bahwa perayaan Maulid Nabi diinisiasi oleh penguasa Ibril, Raja Muzaffar Kaukabri pada awal abad ketujuh hijriah. Beliau adalah salah satu raja yang alim, adil, cerdas, agung, kuat, dan gagah. Beliau juga merupakan adik ipar Sultan Salahuddin al-Ayyubi.

Imam Zahabi mendeskripsikan Raja Muzaffar sebagai sosok yang gemar bersedekah. Di masanya, pembangunan sangat gencar digalakan, salah satunya pembangunan madrasah mazhab Syafei dan Hanafi. Imam Zahabi juga menegaskan bahwa Raja Muzaffar adalah orang yang sangat getol menolak kemunkaran di negerinya. Dia adalah orang yang tawaduk, baik, suni, mencintai fukaha dan muhadis, serta menghargai para penyair. Imam Zahabi juga menguraikan soal peringatan maulid Rasul yang digelar meriah pada masa itu. Hal itu juga diaminkan oleh Imam Ibnu Kasir yang mengungkapkan bahwa perayaan maulid Rasul digelar secara besar-besaran.

Salah seorang ulama mazhab Zahiri, Imam Ibnu Dahiah bahkan menyumbangkan seribu dinar dalam perayaan itu. Beliau juga menulis kitab khusus yang membahas peringatan maulid Nabi. Cucu Imam Ibnu Jauzi (dikenal dengan Imam Sibtu Ibni Jauzi) yang hidup pada masa itu juga mendeskripsikan kemeriahan perayaan tersebut.

Beliau menyebutkan bahwa segenap ulama dan sufi dari penjuru negeri hadir dalam perayaan itu. Mereka turut memeriahkan maulid tanpa mengingkarinya. Hadir sebagai hidangan, lima ribu domba yang dibakar, sepuluh ribu ayam dan seratus kuda yang dihidangkan dengan seratus ribu mangkuk berisi kari dan tiga puluh ribu cawan berisi manisan.

Barangkali benar bila mengira bahwa peringatan maulid berasal dari kalangan Syiah. Namun, sebagaimana deskripsi Syekh Ibnu Taimiah bahwa Sultan Salahuddin memberantas perilaku menyimpang Dinasti Fatimiah, serta penjelasan Imam Zahabi bahwa Raja Muzaffar tidak akan mengizinkan kemunkaran berlangsung di negerinya, maka boleh jadi peringatan maulid ala Syiah dihilangkan dan diganti dengan peringatan yang sesuai Al-Qur’an dan Sunah. Inilah yang kemudian diinisiasi oleh Raja Muzaffar. Karena kedekatan hubungannya dengan Sultan Salahuddin, sangat mustahil bila perayaan besar-besaran itu tidak dicela dan diberantas bila memang maulid itu terlarang. Namun, tidak ada satu pun catatan sejarah yang menyebutkan penolakan Sultan Salahuddin atas perayaan maulid yang dilakukan oleh iparnya tersebut. Justru sejumlah literatur menyebutkan kemeriahan peringatan maulid pada masa itu dengan dihadiri oleh ulama dan sufi dari penjuru negeri, juga dilakukan oleh raja yang saleh.

Mengutip pendapat Imam Ibnu Hajar Asqalani, bahwa asal dari perayaan maulid Rasul adalah bidah. Bidah berarti bentuk perayaan yang lazim pada masa sekarang, tidak ada di zaman Nabi dan tiga generasi awal. Namun, di dalamnya terdapat kegiatan yang bagus dan sesuai syariat, ada juga yang jelek menyalahi syariat. Sehingga, bila dalam perayaan maulid dihiasi dengan amalan yang baik dan menjauhi kemaksiatan, maka perayaan maulid Rasul dihukumi bidah hasanah. Bila tidak, maka hukumnya terlarang.

Dalam hal ini, Imam Ibnu Hajar mengambil kias dari hadis Bukhari-Muslim tentang orang Yahudi yang berpuasa di hari Asyura sebagai bentuk syukur karena Allah telah menyelamatkan Nabi Musa dan membinasakan Firaun. Karena tidak ada nikmat yang lebih besar selain hari kelahiran Nabi, maka maulid Rasul lebih berhak untuk disyukuri daripada apa pun.

Imam Izzuddin bin Abdilsalam, seorang ulama di abad ketujuh hijriah yang bergelar Sultan Ulama, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan bidah adalah kegiatan yang tidak ditemukan di masa Rasulullah saw. Beliau membagi bidah menjadi lima bagian: bidah wajib, haram, sunah, makruh, dan mubah. Hukum tersebut harus ditinjau dari kaidah syairat. Bila di dalamnya terdapat perkara yang diwajibkan, maka bidah itu dihukumi wajib dilakukan. Bila di dalamnya terdapat perkara yang diharamkan, maka bidah itu dihukumi haram dilakukan. Begitu seterusnya. 

Contoh bidah yang wajib adalah menggunakan ilmu nahu untuk memahami kalam Allah dan kalam Rasul. Pada masa Nabi, ilmu nahwu belum ada, artinya bidah. Namun, karena tidak bisa memahami nas syariat tanpa ilmu nahu (apalagi bagi orang asing), maka belajar ilmu nahu adalah bidah yang wajib. Demikian juga belajar ilmu usul fikih yang baru muncul di akhir abad kedua hijriah.

Contoh bidah yang haram adalah mazhab Qadariah, Jabbariah, Murjiah, dan Mujasimah. Hal itu karena semuanya melakukan bidah dalam akidah Islam dan menyalahinya. Adapun perayaan maulid, Imam Izzuddin memasukkannya ke dalam bidah sunah (al-bid`ah al-mandûbah/bidah yang disenangi). Di antara bidah sunah adalah segala hal bagus yang tidak ada di masa awal, misalnya mempelajari ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu debat.

Mengekspresikan rasa syukur dan bahagia bisa dengan berbagai cara. Mungkin, bagi Nabi bisa dengan berpuasa. Bagi salaf saleh bisa dengan bersedekah. Bagi Raja Muzaffar, mengumpulkan orang-orang dan menghidangkan makanan menjadi salah satu sarana. Di dalamnya, dakwah Islam bisa digaungkan, kampanye Islam yang ramah bisa dipamerkan, praktik Islam yang indah bisa dilakukan. Selama bidah tersebut diisi dengan kegiatan yang bagus dan sesuai tuntutan agama (dalam bahasa Imam Izzuddin adalah amalan sunah), maka kegiatan itu adalah bidah hasanah atau bidah sunah.

Melihat praktik maulid Rasul di zaman sekarang, tentu saja tidak semuanya baik. Ada saja kemaksiatan yang terjadi. Itu yang tidak boleh. Bila maulid diisi dengan tablig islami, pembacaan manakib Nabi, selawat dan pembacaan Al-Qur’an, zikir dan tahlil, serta sedekah dan berlomba-lomba dalam kebaikan, tentu hal itu sangat dibenarkan oleh agama.

Bila maulid diisi dengan selawat Nabi, tetapi diiringi oleh biduan dan penari yang melenggak-lenggok, atau bercampurnya pria dan wanita bukan mahram tanpa hajat, atau penguasa/politisi yang menggelar maulid hanya untuk menarik simpati dan suara rakyat, atau panitia pelaksana yang menjadikan acara maulid sebagai “ladang” usaha, tentu hal itu tidak diperkenankan dan menyalahi aturan agama. Sama seperti pagelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an, tetapi penuh dengan kecurangan. Membungkus kemaksiatan dengan kedok keagamaan.

Lalu, mengapa perayaan maulid Rasul digelar setiap tanggal 12 Rabiulawal? Hal itu sebagaimana riwayat dari Imam Ibnu Hasyim dalam kitab Sirah-nya, bahwa Rasulullah saw. dilahirkan hari Senin pada malam hari di tanggal 12 Rabiulawal tahun Gajah. Sekali pun riwayat itu melalui sanad Imam Ibnu Ishaq, tetapi Imam Ibnu Ishaq tidak mencantumkannya di dalam kitab Sirah-nya. Riwayat Imam Ibnu Hisyam ini adalah riwayat yang masyhur, sekali pun sebagian ulama ahli falak mengatakan bahwa hari Senin yang dimaksud jatuh pada tanggal 9 Rabiulawal.

Imam Ibnu Hajar Haitami menyebutkan sejumlah pendapat soal hari dan tanggal kelahiran Nabi. Ada yang menyebutkan bahwa Nabi lahir di bulan Safar, Rabiulawal, Rabiulakhir, Rajab, Ramadan, bahkan hari Asyura. Namun, yang benar menurut Imam Ibnu Hajar adalah bulan Rabiulawal. Adapun tanggalnya, ada yang menyebutkan bahwa Nabi lahir di tanggal 8. Ini yang dipilih oleh kebanyakan ahli hadis, bahkan disebutkan bahwa ahli sejarah telah menyepakati hal itu. Ada juga yang mengatakan tanggal 2, 10, 12, dan 8 hari terakhir bulan Rabiulawal. Namun, yang masyhur tetap tanggal 12 Rabiulawal.

Dalam praktiknya, peringatan maulid Rasul juga tidak mesti tanggal 12 Rabiulawal. Bahkan, di sejumlah kampung sering digelar peringatan maulid Rasul di bulan Rabiulakhir. Hal itu karena esensi memperingati maulid Nabi adalah pengingat dan pengungkapan suka cita atas kelahiran baginda, bukan ibadah wajib yang mau tidak mau harus diperingati khusus pas 12 Rabiulawal.

Memang, di beberapa tempat, misalnya di kampung saya di kecamatan Cipanas, kabupaten Lebak, provinsi Banten, ada acara khusus di tanggal 12 Rabiulawal, disamping perayaan maulid yang biasa digelar. Acara tersebut dinamakan “ngatir”. Setiap 12 Rabiulawal dan 15 Syakban, setiap laki-laki dalam keluarga datang ke musala, masjid, atau balai kampung dengan membawa makanan (semacam tumpeng) untuk dikumpulkan. Setelah melaksanakan zikir, tahlil, dan pembacaan sepenggal riwayat hidup Nabi, makanan itu nantinya akan didistribusikan kembali kepada hadirin di musala, para janda yang tidak punya anak laki-laki, anak-anak yatim, keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki, serta keluarga yang laki-lakinya berhalangan hadir. Hal itu sebagai bentuk sedekah pada hari maulid dan nisfu Syakban. Namun, di sejumlah tempat tradisi itu tidak ada. Artinya, karena acara itu terikat pada tradisi, tidak bisa disebut sebagai kewajiban sehingga yang meninggalkannya berdosa, melainkan sebatas sarana memperbanyak keutamaan amal kebaikan. Bidah hasanah. Praktiknya bidah (tidak ada di zaman Nabi dan tiga generasi awal), namun esensinya sunah dan bagus (bersedekah, zikir, tahlil, tasbih, tahmid, selawat, doa, dan pembacaan riwayat Nabi).

Melakukan amal kebaikan di hari kelahiran Nabi, tentu saja memiliki nilai lebih. Apalagi bila disertai niat yang tulus dan hati yang gembira. Sekelas Abu Lahab saja yang merupakan seorang kafir (dan satu-satunya yang dikecam oleh Allah dalam Al-Qur’an dengan kecaman paling kasar) masih mendapat keringanan siksaan di setiap hari Senin. Hal itu karena dia bergembira ketika mendengar kelahiran Nabi dengan membebaskan budak perempuannya yang bernama Suaibah. Tidak hanya memerdekakannya, Abu Lahab juga menyuruh Suaibah menyusui Nabi. Lantas, bagaimana nasib kita yang seorang muslim? Tentu akan mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan Abu Lahab, bila turut bergembira dan melakukan kebajikan atas hari kelahiran Baginda.

Yang bikin geleng-geleng kepala, ada orang yang anti sekali (bahkan menghukumi haram dan syirik) bagi orang yang memperingati maulid. Namun, di sisi lain ia baik-baik saja dengan dies natalis kampus, hari jadi organisasi atau partai (biar lebih “islami” istilahnya diganti dengan “milad”. Padahal “milad” adalah istilah bahasa Arab untuk hari Natal atau kelahiran Yesus Kristus), atau peringatan hari pernikahan mereka. Bahkan, mereka juga gemar membagikan “kenangan tahunan” di media sosial. Peringatan hari-hari bersejarah seperti wisuda dan hari kemerdekaan juga sering dibiarkan. Ironisnya, peringatan maulid justru dikecam habis-habisan.

Dalam beragama, terutama urusan cabang (bukan pokok agama/tauhid) boleh saja berbeda pendapat. Selagi dilandasi dalil dan argumentasi valid, atau juga tidak ditemukan hujah larangannya. Yang perlu dilakukan adalah saling menghargai, tidak perlu mencaci apalagi mengkafirkan dan mensyirikkan sesama muslim. Setidaknya, kita sama-sama mencintai Nabi. Hanya caranya saja yang berbeda dalam mengekspresikan rasa cinta dan syukur itu.

Wallahualam bissawab.


REFERENSI:

1. `Abd al-Malik bin Hisyâm al-Mugâfirî, ed. Muhammad Sadqi al-Attar dan Said Muhammaf al-Lahham, al-Sîrah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyâm, Jilid I (Beirut: Dar el-Fikr, 2010), hal. 134.

2. `Izz al-Dîn `Abd al-`Azîz bin `Abd al-Salâm, ed. Nazih Kamal Hammad dan Usman Jumah Damiriah, al-Qawâ`id al-Kubrâ: Qawâ`id al-Ahkâm fî Islâh al-Anâm, Juz II (Damaskus: Dar al-Qalam, 2010), hal. 337-338.

3. Ahmad bin Muhammad bin Hajar al-Haitamî, ed. Bassam Muhammad Barud, al-Minah al-Makiyyah fî Syarh al-Hamziyyah, Juz I (Abu Dhabi: al-Majma` al-Saqafî, 1998), hal. 181.

4. Ismâ`îl bin `Umar al-Qurasyî al-Dimasyqî bin Kasîr, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Juz XIII (Beirut: Maktabah al-Maarif, 1988), hal. 136-137.

5. Jalâl al-Dîn `Abdullâh bin Abî Bakr al-Suyûtî, ed. Abdullatif Hasan Abdulrahman, al-Hâwî li al-Fatâwâ fî Fiqh wa `Ulûm al-Tafsîr wa al-Hadîs wa al-Usûl wa al-Nahw wa al-I`râb wa Sâ´ir al-Funûn, Juz I (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2010), hal. 181-189.

6. Muhammad bin Ishâq bin Yasâr al-Mutallibî al-Madanî, ed. Ahmad Farid al-Mazidi, al-Sîrah al-Nabawiyyah li Ibn Ishâq, Juz I-II (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2009), hal. 99.

7. Syams al-Dîn Muhamamd bin Ahmad bin `Usmân al-Zahabî, ed. Basyar Awwad Makruf dan Muhyi Halal al-Rahan, Siyar A`lâm al-Nubalâ`, Juz XXII (Beirut: al-Resalah, 1985), hal. 335-336.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s